F Aziz Manna *
Seputar Indonesia, 25 Mar 2012
Situasi kesusasteraan khususnya perpuisian di Jawa Timur saat ini sangatlah meriah. Bahkan bisa dikata menegangkan. Bagaimana tidak, hingga kini perbincangan sastra (puisi) di Jatim menukik ke arah paling vital.
Menajam pada visi dan ideologi puisi. Tapi secara garis besar, perbincangan yang kerap berujung pertikaian ini terkanalisasi dalam tiga aliran deras. Yakni, aliran para pemeluk teguh puisi gelap, aliran peyakin puisi terang, dan aliran alternatif penganjur suara-suara lain. Aliran terakhir ini lebih cenderung mengarah pada gerakan politik sastra. Meski begitu,mereka tetap melakukannya dengan tawaran estetika. Kanalisasi tiga aliran puitika Jatim ini merupakan kristalisasi dari gerakan sastra sebelumnya. Pada 1993, para sastrawan Jatim memelopori gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP).
Gerakan ini seakan ingin membuka mata Indonesia bahwa kegiatan bersastra tidak melulu hadir di Jakarta. Setelah itu,berkecambahlah kantong-kantong sastra di Jatim. Berdasar pendataan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang dilakukan pada Maret 1998 tercatat sedikitnya 167 komunitas sastra Indonesia yang muncul di berbagai daerah dan 33 di antaranya terdapat di Jatim. Menariknya, data itu tidak menyebut tiga nama komunitas yang menghembuskan tiga aliran besar dalam perbincangan sastra terkini di Jatim seperti tersebutkan di atas.Ini berarti,pasca 1998 kian membiak pertumbuhan komunitas sastra di Jatim.
Berdasar pendataan terbaru yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Timur pada 2010 terdeteksi sebanyak 114 komunitas sastra yang pernah muncul dan beraktivitas di Jatim. Komunitas ini hampir ada di tiap wilayah Jatim. Para praktisi dan pemerhati perpuisian Jawa Timur pasti mengetahui tiga kelompok aliran deras ini.Meski terkadang sebagian dari mereka tidak mengakuinya secara eksplisit. Aliran para pemeluk teguh puisi gelap dipelopori oleh sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kelompok aliran puisi terang dimotori oleh kumpulan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Sedangkan kelompok aliran alternatif yang menawarkan suara-suara lain dipenuhi oleh beragam jenis kumpulan, mulai dari komunitas di luar kampus, aktivis, pemerhati seni, pegawai balai bahasa, hingga pedagang dan pengangguran. Aliran puisi gelap merupakan kelompok yang cukup militan dan solid sampai saat ini.Mereka memulai gerakan puitikanya melalui Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) dan Teater Gardu Puisi Surabaya (Gapus) sejak era 1990-an.Hingga kini para personilnya masih berkreasi. Salah satu pemeluk teguh puisi gelap ialah Indra Tjahyadi.
Dalam manifesto puisi gelapnya, Indra meneriakkan kredo: puisi harus didorong ke arah pemaknaan yang paling ambigu,yakni dengan menggelapkan makna. Sebab itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan manusia dari kehancurannya sebab hidup di dunia kini yang telah dipenuhi kebanalan. Arif Bagus Prasetyo dalam catatan kuratorial ?Forum Sastra Indonesia Hari Ini wilayah Jawa Timur? yang digelar komunitas Salihara Jakarta mengakui secara terbuka bahwa sampai hari ini di Jawa Timur belum muncul gerakan puitik yang semilitan dan seserius puisi gelap.
Mazhab puisi gelap mengekspos panorama kegelapan jiwa dengan kadar kepekatan dan kemabukan yang belum pernah terpampang dalam khasanah puisi dari berbagai provinsi lain. Sehingga, kehadiran puisi gelap layak dicatat sebagai kontribusi unik Jawa Timur dalam sejarah sastra Indonesia kontemporer. Aliran kedua yang mulai tumbuh di Jawa Timur ialah puisi terang. Kelompok ini muncul pada era 2000-an dimobilisasi oleh Komunitas Rabo Sore yang bermarkas di Unesa. Kelompok ini mendapatkan suntikan puitik dari penyair kawak dari Gresik, HU Mardi Luhung. Beberapa sosok yang mendiami kelompok ini ialah A Muttaqin, Umar Fauzi Ballah, Dody Kristianto dan lainnya.
Kelompok ini menyuarakan gerakan puisi terang yang menyuarakan kehidupan manusia sehari-hari dengan bahasa yang komunikatif dan tidak atraktif. Model puitika kelompok ini dipasangkan sebagai ?lawan? puisi gelap. Dalam obrolan mereka yang terekam melalui jejaring sosial,mereka menyepakati bentuk puisi Gokil sebagai identitas mereka. Gokil merupakan sebuah prokem anak gaul yang sering diartikan sebagai gila. Namun kegilaan yang dimunculkan dalam puisi kelompok ini bukanlah penjungkirbalikan logika. Puisi Gokil diterjemahkan dalam kredo mereka sebagai puisi gegojekan atawa begejekan. Sebuah jenis puisi tidak serius tapi serius.
Rahmat Giryadi, sastrawan dan dramawan lulusan Unesa menyebutnya sebagai puisi ?seGo kiKil? (nasi kikil) dan puisi ?soGOKane upIL? (alat pencungkil kotoran hidung). Sebutan Giryadi ini begitu pas untuk menamai gerakan puisi kelompok Unesa yang mengusung keseharian, ketidakseriusan yang serius. Dalam kredo puisi Gokil ini,posisi A Muttaqin ditempatkan paling atas sebagai ketua kelompok, menyusul Timur Budi Raja sebagai wakil ketuanya dan Dody sebagai penanggungjawabnya.
Aliran ketiga yang tumbuh di Jawa Timur merupakan kelompok ?tengah? yang tidak mendukung puisi gelap pun puisi terang ?Gokil?. Aliran ketiga ini cenderung membawa suara-suara lain. Menawarkan alternatif bentuk puisi. Sayangnya, kelahiran aliran ketiga ini lebih bernuansa politis daripada puitis. Aliran suara lain ini dimotori oleh Wahyu Haryanto, AF Tuasikal, serta Puput Amiranti. Belakangan ini, aliran suara lain terus mengumpulkan kekuatan dengan menggandeng komunitas-komunitas sastra dan seni di beberapa wilayah di Jatim. Beberapa komunitas itu tersebar di Mojokerto, Lamongan, Jombang, Malang, Madura, dan Surabaya.
Aliran alternatif ini menginginkan adanya revolusi generasi penyair Jawa Timur. Mereka menolak penyairpenyair terdahulu dan menawarkan generasi-generasi mutakhir. Meski, generasi mutakhir yang ditawarkan belum memiliki karier panjang. Beberapa penyair alternatif yang coba ditawarkan seperti Abimardha Kurniawan, Fahmi Fakih, Dadang Ari Murtono, Amal Sejati dan lainnya.
Dalam kredo berjudul ?Regenerasi Penyair Jawa Timur?, Puput Amiranti menyatakan, apa yang terjadi jika generasi-generasi yang terdahulu tetap berada pada posisi kepemimpinan di atas, sesungguhnya yang mereka lakukan bukanlah memberikan arah baru atau memberi petunjuk yang lebih baik di masa mendatang melainkan kenikmatan- kenikmatan memorabilia kejayaan mereka dulu yang pernah melegenda namun sekarang tinggal rangkaian cerita yang kerap diulang-ulang.
Puput pun menyuarakan lahirnya generasi muda sastra yang berusaha berdiri di atas pemikiran sendiri tanpa dibayang- bayangi penyair-penyair terdahulu. Aliran alternatif ini meyakini, penyair-penyair muda yang lepas dari penyair-penyair sebelumnya memiliki potensi estetik yang besar dan layak diberi tempat. Ketiga aliran ini merupakan penghuni sah dari peta perpuisian Jawa Timur. Namun yang perlu diingat, sebagai sebuah provinsi para penyair (meminjam isilah kritikus Ribut Wijoto), Jawa Timur haruslah bisa menyemaikan lebih banyak lagi aliran puisi.
Saya meyakini, selama kelompok sastra ini bisa berdialog kreatif tanpa saling membunuh, beberapa tahun ke depan akan bermunculan lagi aliranaliran baru puisi Jawa Timur. Semoga.
________________
*) F Aziz Manna, Penyair, anggota Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP).
aliran para pemeluk teguh puisi gelap, aliran peyakin puisi terang, dan aliran alternatif penganjur suara-suara lain. Aliran terakhir ini lebih cenderung mengarah pada gerakan politik sastra. Meski begitu,mereka tetap melakukannya dengan tawaran estetika. Kanalisasi tiga aliran puitika Jatim ini merupakan kristalisasi dari gerakan sastra sebelumnya. Pada 1993, para sastrawan Jatim memelopori gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP). Gerakan ini seakan ingin membuka mata Indonesia bahwa kegiatan bersastra tidak melulu hadir di Jakarta. Setelah itu,berkecambahlah kantong-kantong sastra di Jatim. Berdasar pendataan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang dilakukan pada Maret 1998 tercatat sedikitnya 167 komunitas sastra Indonesia yang muncul di berbagai daerah dan 33 di antaranya terdapat di Jatim. Menariknya, data itu tidak menyebut tiga nama komunitas yang menghembuskan tiga aliran besar dalam perbincangan sastra terkini di Jatim seperti tersebutkan di atas.Ini berarti,pasca 1998 kian membiak pertumbuhan komunitas sastra di Jatim. Berdasar pendataan terbaru yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Timur pada 2010 terdeteksi sebanyak 114 komunitas sastra yang pernah muncul dan beraktivitas di Jatim. Komunitas ini hampir ada di tiap wilayah Jatim. Para praktisi dan pemerhati perpuisian Jawa Timur pasti mengetahui tiga kelompok aliran deras ini.Meski terkadang sebagian dari mereka tidak mengakuinya secara eksplisit. Aliran para pemeluk teguh puisi gelap dipelopori oleh sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kelompok aliran puisi terang dimotori oleh kumpulan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Sedangkan kelompok aliran alternatif yang menawarkan suara-suara lain dipenuhi oleh beragam jenis kumpulan, mulai dari komunitas di luar kampus, aktivis, pemerhati seni, pegawai balai bahasa, hingga pedagang dan pengangguran. Aliran puisi gelap merupakan kelompok yang cukup militan dan solid sampai saat ini.Mereka memulai gerakan puitikanya melalui Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) dan Teater Gardu Puisi Surabaya (Gapus) sejak era 1990-an.Hingga kini para personilnya masih berkreasi. Salah satu pemeluk teguh puisi gelap ialah Indra Tjahyadi. Dalam manifesto puisi gelapnya, Indra meneriakkan kredo: puisi harus didorong ke arah pemaknaan yang paling ambigu,yakni dengan menggelapkan makna. Sebab itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan manusia dari kehancurannya sebab hidup di dunia kini yang telah dipenuhi kebanalan. Arif Bagus Prasetyo dalam catatan kuratorial ?Forum Sastra Indonesia Hari Ini wilayah Jawa Timur? yang digelar komunitas Salihara Jakarta mengakui secara terbuka bahwa sampai hari ini di Jawa Timur belum muncul gerakan puitik yang semilitan dan seserius puisi gelap. Mazhab puisi gelap mengekspos panorama kegelapan jiwa dengan kadar kepekatan dan kemabukan yang belum pernah terpampang dalam khasanah puisi dari berbagai provinsi lain. Sehingga, kehadiran puisi gelap layak dicatat sebagai kontribusi unik Jawa Timur dalam sejarah sastra Indonesia kontemporer. Aliran kedua yang mulai tumbuh di Jawa Timur ialah puisi terang. Kelompok ini muncul pada era 2000-an dimobilisasi oleh Komunitas Rabo Sore yang bermarkas di Unesa. Kelompok ini mendapatkan suntikan puitik dari penyair kawak dari Gresik, HU Mardi Luhung. Beberapa sosok yang mendiami kelompok ini ialah A Muttaqin, Umar Fauzi Ballah, Dody Kristianto dan lainnya. Kelompok ini menyuarakan gerakan puisi terang yang menyuarakan kehidupan manusia sehari-hari dengan bahasa yang komunikatif dan tidak atraktif. Model puitika kelompok ini dipasangkan sebagai ?lawan? puisi gelap. Dalam obrolan mereka yang terekam melalui jejaring sosial,mereka menyepakati bentuk puisi Gokil sebagai identitas mereka. Gokil merupakan sebuah prokem anak gaul yang sering diartikan sebagai gila. Namun kegilaan yang dimunculkan dalam puisi kelompok ini bukanlah penjungkirbalikan logika. Puisi Gokil diterjemahkan dalam kredo mereka sebagai puisi gegojekan atawa begejekan. Sebuah jenis puisi tidak serius tapi serius. Rahmat Giryadi, sastrawan dan dramawan lulusan Unesa menyebutnya sebagai puisi ?seGo kiKil? (nasi kikil) dan puisi ?soGOKane upIL? (alat pencungkil kotoran hidung). Sebutan Giryadi ini begitu pas untuk menamai gerakan puisi kelompok Unesa yang mengusung keseharian, ketidakseriusan yang serius. Dalam kredo puisi Gokil ini,posisi A Muttaqin ditempatkan paling atas sebagai ketua kelompok, menyusul Timur Budi Raja sebagai wakil ketuanya dan Dody sebagai penanggungjawabnya. Aliran ketiga yang tumbuh di Jawa Timur merupakan kelompok ?tengah? yang tidak mendukung puisi gelap pun puisi terang ?Gokil?. Aliran ketiga ini cenderung membawa suara-suara lain. Menawarkan alternatif bentuk puisi. Sayangnya, kelahiran aliran ketiga ini lebih bernuansa politis daripada puitis. Aliran suara lain ini dimotori oleh Wahyu Haryanto, AF Tuasikal, serta Puput Amiranti. Belakangan ini, aliran suara lain terus mengumpulkan kekuatan dengan menggandeng komunitas-komunitas sastra dan seni di beberapa wilayah di Jatim. Beberapa komunitas itu tersebar di Mojokerto, Lamongan, Jombang, Malang, Madura, dan Surabaya. Aliran alternatif ini menginginkan adanya revolusi generasi penyair Jawa Timur. Mereka menolak penyairpenyair terdahulu dan menawarkan generasi-generasi mutakhir. Meski, generasi mutakhir yang ditawarkan belum memiliki karier panjang. Beberapa penyair alternatif yang coba ditawarkan seperti Abimardha Kurniawan, Fahmi Fakih, Dadang Ari Murtono, Amal Sejati dan lainnya. Dalam kredo berjudul ?Regenerasi Penyair Jawa Timur?, Puput Amiranti menyatakan, apa yang terjadi jika generasi-generasi yang terdahulu tetap berada pada posisi kepemimpinan di atas, sesungguhnya yang mereka lakukan bukanlah memberikan arah baru atau memberi petunjuk yang lebih baik di masa mendatang melainkan kenikmatan- kenikmatan memorabilia kejayaan mereka dulu yang pernah melegenda namun sekarang tinggal rangkaian cerita yang kerap diulang-ulang. Puput pun menyuarakan lahirnya generasi muda sastra yang berusaha berdiri di atas pemikiran sendiri tanpa dibayang- bayangi penyair-penyair terdahulu. Aliran alternatif ini meyakini, penyair-penyair muda yang lepas dari penyair-penyair sebelumnya memiliki potensi estetik yang besar dan layak diberi tempat. Ketiga aliran ini merupakan penghuni sah dari peta perpuisian Jawa Timur. Namun yang perlu diingat, sebagai sebuah provinsi para penyair (meminjam isilah kritikus Ribut Wijoto), Jawa Timur haruslah bisa menyemaikan lebih banyak lagi aliran puisi. Saya meyakini, selama kelompok sastra ini bisa berdialog kreatif tanpa saling membunuh, beberapa tahun ke depan akan bermunculan lagi aliranaliran baru puisi Jawa Timur. Semoga. ________________ *) F Aziz Manna, Penyair, anggota Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP). Dijumput dari: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/480486/">http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/480486/
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A. Qorib Hidayatullah
A. Rego S. Ilalang
A. Rodhi Murtadho
A. Syauqi Sumbawi
Abdul Azis Sukarno
Abdul Kadir Ibrahim
Abi N. Bayan
Achiar M Permana
Adib Baroya
Aditya Ardi N
Afrilia
Afrizal Malna
Aguk Irawan Mn
Agus Buchori
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahmad Anshori
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Rifa’i Rif’an
Ahmad Tohari
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mustofa
Alief Mahmudi
Alim Bakhtiar
Allex Qomarulla
Amarzan Loebis
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Syarifuddin
Anash
Andri Awan
Anggrahini KD
Anindita S Thayf
Anisa Ulfah
Anjrah Lelono Broto
Annisa Steviani
Anugrah Gio Pratama
Anung Wendyartaka
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra)
Ardy Suryantoko
Arie Giyarto
Arie MP Tamba
Arif Bagus Prasetyo
Arif Gumantia
Arif Hidayat
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
AS Laksana
Asarpin
Asrul Sani
Baca Puisi
Bahrum Rangkuti
Balada
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni R. Budiman
Beni Setia
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budi Darma
Bustan Basir Maras
Candra Malik
Candrakirana
Caping
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chicilia Risca
Christine Hakim
Cinta Laura Kiehl
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Darju Prasetya
Deddy Setiawan
Denny JA
Denny Mizhar
Deo Gratias
Dewi Musdalifah
Dhimas Ginanjar
Dian Sukarno
Dian Tri Lestari
Diana AV Sasa
Dien Makmur
Dinar Rahayu
Diskusi
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Yan Masfa
Donny Syofyan
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Edisi Khusus
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Prasetyo
Eko Tunas
Elsa Vilinsia Nasution
Erwin Setia
Ery Mefry
Esai
Evan Ys
F Aziz Manna
F. Budi Hardiman
F. Rahardi
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Feby Indirani
Felix K. Nesi
Foto Andy Buchory
Francisca Christy Rosana
Franz Kafka
Frischa Aswarini
Fritz Senn
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gde Artawan
Gendhotwukir
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Gusti Eka
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hamka
Hamsad Rangkuti
Hamzah Sahal
Hardy Hermawan
Hari Purwiati
Hario Pamungkas
Haris del Hakim
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hendri R.H
Hendri Yetus Siswono
Herie Purwanto
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Hudan Nur
I Nyoman Darma Putra
I. B. Putera Manuaba
IAI TABAH (Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah)
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Fitri
Ignas Kleden
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imammuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indira Permanasari
Indonesia O’Galelano
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Inung As
Isbedy Stiawan ZS
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwan Simatupang
Jajang R Kawentar
Jalaluddin Rakhmat
James Joyce
Jean-Paul Sartre
Jember Gemar Membaca
JJ. Kusni
Jl Raya Simo Sungelebak Karanggeneng
Joko Pinurbo
Jordaidan Rizsyah
Joyo Juwoto
Jual Buku Paket Hemat
K. Usman
Kadek Suartaya
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khairul Mufid Jr
Khanif
Khoirul Abidin
Ki Ompong Sudarsono
Kiki Astrea
Kitab Para Malaikat
Koh Young Hun
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela)
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
Kritik Sastra
Kumpulan Cerita Buntak
Kurnia Effendi
Kuswaidi Syafi’ie
L.K. Ara
Lan Fang
Launching dan Bedah Buku
Lawi Ibung
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M)
Literasi
Liza Wahyuninto
Lukas Luwarso
Lukman Santoso Az
M. Abror Rosyidin
M. Adnan Amal
M. Faizi
M. Lutfi
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahardini Nur Afifah
Mahendra Cipta
Mahfud Ikhwan
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mansur Muhammad
Marcellus Nur Basah
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria Magdalena Bhoernomo
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon
Marsel Robot
Marulam Tumanggor
Mas Garendi
Mashuri
Masuki M. Astro
Matdon
Matroni Muserang
MG. Sungatno
Moh. Husen
Mohamad Sobary
Mohammad Sadam Husaen
Muhammad Idrus Djoge
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhidin M. Dahlan
Multazam
Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur
Murnierida Pram
Mutia Sukma
N. Syamsuddin CH. Haesy
Naskah Teater
Neli Triana
NH Dini
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nissa Rengganis
Noor H. Dee
Novel John Halmahera
Nurel Javissyarqi
Nuryana Asmaudi
Omah Sastra Ahmad Tohari
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pagelaran Musim Tandur
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Profil MA Matholi'ul Anwar
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Pustaka LaBRAK
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Rahmat HM
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Resensi
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Rinto Andriono
Riri Satria
Rodli TL
Ronggeng Dukuh Paruk
Ronny Agustinus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saini KM
Sainul Hermawan
Sajak
Sanggar Pasir
Sanggar Pasir Art and Culture
Sanggar Rumah Ilalang
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sasti Gotama
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Lamongan
Sastra-Indonesia.com
Sastri Sunarti
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSAstra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seputar Sastra Semesta
Sergi Sutanto
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siwi Dwi Saputro
Soeparno S. Adhy
Soetanto Soepiadhy
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sosiawan Leak
Subagio Sastrowardoyo
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syaifuddin Gani
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teater Ilat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Titi Aoska
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Topik Mulyana
Tri Lestari Sustiyana
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Ulysses
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Negeri Jember
Untung Wahyudi
Veronika Ninik
Viddy A.D. Daery
W.S. Rendra
Wage Daksinarga
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Widie Nurmahmudy
Wildan Ibnu Walid
Windi Erica Sari
Wisran Hadi
Y Alprianti
Y. Thendra BP
Yanusa Nugroho
Yasunari Kawabata
Yeni Mulyani
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yonathan Rahardjo
Yopi Setia Umbara
Zainuddin Sugendal
Zainuri
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zumro As-Sa'adah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar