Gusti Eka
Siska, banjir bandang yang baru saja selesai telah mengancurkan segalanya termasuk kenangan kita. Rumahku, rumahmu dan rumah orang-orang di desa kita, hanyut. Jembatan besi penghubung desa dan kabupaten yang baru saja dibangun, roboh. Banjir ini yang terbesar yang pernah terjadi dalam riwayat desa kita. Banjir yang juga buat orang-orang kita pulang, tidur beratap langit dan berkumpul lagi. Orang-orang kita akhirnya pulang ke Bukit Cahaya tempat segala hal di desa kita di mulai. Seperti keinginanmu, sebelum kau pergi ke negeri seberang, keinginan hidup tanpa sekat, dan tentu saja keinginan kita, untuk bersama tanpa memandang perbedaan.
***