Tampilkan postingan dengan label Maman S Mahayana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maman S Mahayana. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Agustus 2021

MELIHAT DUNIA LEWAT JENDELA CERPEN

Maman S. Mahayana
 
Korrie Layun Rampan, Tokoh-Tokoh Cerita Pendek Dunia, Jakarta: Grasindo, 2005, xviii + 233 halaman.
 
Konon, sastra adalah roh kebudayaan. Ia dilahirkan dari sosok sastrawan yang mengalami serangkaian kegelisahan atas problem kultural masyarakatnya. Sastra yang mengangkat dunia manusia menggambarkan gagasan, bahasa, pikiran, perasaan, sikap perilaku, dan pandangan hidup manusia sebagai salah satu bentuk pengejawantahan kebudayaannya.

Kamis, 22 Juli 2021

SUPER HILANG, SEGEROBAK SAJAK HAMID JABBAR

: KESERIUSAN YANG TAK KENAL LELAH
 
Maman S. Mahayana *
 
Hamid Jabbar, Super Hilang (Balai Pustaka, 1998), xii + 397 halaman
Puisi bukanlah caci-maki. Ia juga tidak sekadar ungkapan perasaan melankolis remaja yang cengeng. Seperti juga ragam karya sastra lainnya, sangat mungkin puisi dimanfaatkan sebagai alat untuk mengungkapkan kegelisahan penyair ketika ia mesti ber-hadapan dengan ketidakadilan, ketidakberdayaan atau manakala ia merindui cinta ilahiah.

Kamis, 08 Juli 2021

ASRUL SANI: KONSEPTOR SURAT KEPERCAYAANG GELANGGANG

Maman S. Mahayana *
 
Ketika kita bicara soal Polemik Kebudayaan, serta-merta nama yang segera muncul dalam ingatan kita adalah Sutan Takdir Alisjahbana. Tokoh inilah yang menggelindingkan perdebatan kultural saat bangsa ini dilanda kegandrungan romantisisme. Harapan untuk mendirikan dan merumuskan kebudayaan Indonesia menjadi sebuah keniscayaan yang mengejawantah di dalam perjuangan politik pergerakan dan berbagai gagasan mengenai kebudayaan Indonesia. Nama Alisjahbana lalu menjadi semacam mitos dalam perjuangan kebudayaan.

Minggu, 27 Juni 2021

MEMAHAMI KULTUR ETNIK MELALUI KARYA SASTRA

Maman S. Mahayana *
 
Jika diyakini sastra sebagai ruh kebudayaan, maka sastra sesungguhnya dapat digunakan sebagai salah satu pintu masuk memahami kebudayaan sebuah bangsa. Bagaimanapun juga, sastra merupakan representasi kegelisahan sastrawan. Ia lahir dari proses yang rumit pengamatan, pencermatan, pengendapan, dan pemaknaan sastrawan atas kehidupan ini. Lebih khusus lagi, atas fenomena tindak berkebudayaan sebuah komunitas sosial. Itulah sesungguhnya tanggung jawab sastrawan (seniman) pada kebudayaan, pada kehidupan.

CERPEN DALAM KONSTELASI SASTRA INDONESIA MUTAKHIR

Maman S. Mahayana *
 
Di awal abad ke-21 ini, cerpen Indonesia makin menunjukkan signifikansinya.Ia hadir tidak hanya lantaran derasnya penerbitan buku antologi cerpen, tetapi juga lebih disebabkan oleh kuatnya kecenderungan untuk terbebas dari mainstream. Kondisi itu tentu saja bukan tanpa alasan. Ada sejumlah faktor yang melatarbelakanginya. 

POTRET MASYARAKAT PASCATRADISIONAL

Maman S. Mahayana *
 
Jika sastra dipercaya merupakan potret sosial yang mengusung ruh kebudayaan masyarakatnya, maka boleh jadi antologi cerpen karya Fakhrunas MA Jabbar ini merepresentasikan kebalau kegelisahan masyarakat Melayu masa kini. Ia berada dalam sebuah garis demarkasi antara keagungan masa lalu dan kesuraman masa depan. Ia bagai berada di tengah kehidupan yang tak dapat melepaskan diri dari tradisi, mitos-mitos masa lalu, dan cengkraman sejarah puak Melayu di satu pihak, dan di pihak lain, ia juga menyadari kondisi masyarakat Melayu masa kini yang tak dapat menahan modernitas.

PETA KONSTELASI PENYAIR SUMATERA

Maman S. Mahayana *
 
Pertemuan penyair se-Sumatera (Aceh, Babel, Bengkulu, Jambi, Kepri, Lampung, Riau, Sumbar, Sumsel, Sumut) di Bengkalis, 17—19 Januari 2003, memperlihatkan, betapa sesungguhnya Sumatera masih menyimpan potensi yang kaya dan berlimpah. Kepenyairan Sumatera yang pernah mendominasi perjalanan sastra Indonesia sebelum dan awal merdeka –seperti yang pernah dibangun sastrawan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, hingga ke nama-nama Taufiq Ismail, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, dan sederet panjang nama lain—sangat mungkin kini akan bangkit kembali.

APRESIASI ATAS PUISI PARA PENYAIR YANG TERCECER

KEGELISAHAN TANDA HIDUP
 
Maman S. Mahayana *
 
Kegelisahan tanda hidup: itulah yang memaksa manusia terus memelihara dinamika dan berkembang dengan berbagai kreativitasnya. Itulah yang menyebabkan para penulis-sastrawan, terus berkarya sepanjang usianya. Tak ada kata pensiun bagi penulis selama nyawanya belum melayang. Dan kegelisahan itu lahir dari sebuah elan yang datang bukan sekadar fanta rhei, segalanya mengalir dinamis, melainkan juga mengalir dengan semangat membangun sesuatu yang baru, mencipta dan menegakkan monumen.

Sabtu, 21 November 2020

MENGEMBALIKAN ABDULLAH MUNSYI KE JALAN YANG BENAR

Maman S Mahayana *
 
Amin Sweeney, Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama ecole Francaise d'Extreme-Orient, 2005, xxiv + 370 hlm.
 
Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, pujangga masa lalu yang meninggalkan begitu banyak kontroversi. Dalam sastra Indonesia, ia ditempatkan sebagai tokoh periode transisi, perintis yang konon membawa sastra Melayu lama memasuki sastra Indonesia modern.

Kamis, 12 November 2020

MEMBACA PANORAMA CERPEN KOREA

Maman S. Mahayana *

Apa yang dikatakan Alexandre Sergevich Pushkin (1799-1837), tokoh pembaharu kesusastraan Rusia, tentang seorang penerjemah? “Penerjemah itu laksana kuda beban. Ia membawa harta kebudayaan sebuah bangsa dari satu negeri ke negeri lain.” Begitulah, berkat peran yang dimainkan seorang penerjemah, bangsa yang berada di negeri lain itu, serta-merta dapat menikmati harta kebudayaan bangsa lain. Terjadi pengenalan dan pemahaman tentang kebudayaan lain yang mungkin sebelumnya begitu asing dan berada nun jauh di sana. Dengan usaha penerjemahan itu, setidak-tidaknya, harta kebudayaan bangsa lain yang sebelumnya seperti berada dalam lorong gelap hutan belantara, tiba-tiba laksana menyembulkan setitik cahaya, membuka jalan terang untuk melangkah mendekati, melihat ceruk-ceruknya, dan coba memahaminya.

Jumat, 19 Juni 2020

RUH DAN IDEOLOGI PUISI NUSANTARA

Maman S. Mahayana *

Pembuka Kata

Perbincangan tentang “Ruh dan Ideologi Puisi Nusantara” ibarat pencarian jalan pulang dalam sebuah rimba-raya yang luas, penuh belukar, dan unik; khas. Perbincangan itu tidak sekadar upaya “menemukan” kembali masa lalu yang belum terang, mungkin agak gelap, dan boleh jadi juga sesat, tetapi punya posisi penting sebagai tindak meretas jalan ke depan yang lebih sesuai dengan jiwa dan karakteristik jati diri pemilik sah negeri ini.

Minggu, 24 Mei 2020

SAJAK-SAJAK RELIGIUS BAHRUM RANGKUTI

Maman S. Mahayana *

Konon, puisi adalah ragam karya sastra yang dianggap paling mewakili ekspresi perasaan penyair. Bentuk ekspresi itu, mungkin saja berupa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kepada kekasih, kepada alam, atau kepada Sang Khalik. Oleh karena itu, bahasa dalam puisi terasa sangat ekspresif, lebih padat, kental, dan langsung.

Jumat, 15 Mei 2020

MOMENTUM SASTRA MONUMENTAL

Maman S Mahayana *

Sastra tidak datang dari langit. Tidak juga diturunkan para malaikat. Sastra lahir dari proses yang kompleks. Ke belakang, ada kegelisahan sastrawan dalam menyikapi situasi sosial di sekitarnya. Ke depan, ada visi tertentu yang menjadi tujuan. Pada saat karya itu terbit, ada momentum. Momentum inilah yang sering kali justru membawa karya itu menjadi monumen. Sejarah telah berbicara banyak mengenai itu.

Kamis, 23 April 2020

TENTANG PUISI EPIK

Maman S. Mahayana *

Pembicaraan puisi epik biasanya selalu dikaitkan dengan kisah-kisah klasik peperangan dan kepahlawanan yang menakjubkan. Mengingat kisah-kisah itu terdiri dari serangkaian peristiwa dan sejumlah episode, maka bentuk puisi epik hampir selalu berupa puisi naratif yang panjang. Di dalam perkembangannya kemudian, panjang pendeknya puisi itu, bukanlah merupakan ukuran mutlak.

Jumat, 30 Agustus 2019

PERSENTUHAN DENGAN TUHAN LEWAT SEMESTA

Maman S. Mahayana

Dalam sejarah peradaban umat manusia, hubungan manusia dengan Tuhan selalu diwujudkan lewat berbagai cara; melalui berbagai saluran. Lihatlah masyarakat Yunani kuno yang melakukan pemujaan kepada para dewa melalui pementasan-pementasan drama; perhatikan pula gita puja (hymn; hymne) mereka yang mengagungkan para dewa lewat nyanyian-nyanyian pemujaan; simak pula seruan rohani (invocation) para pujangga yang mengawali karyanya dengan puja-puji dan penghormatan pada kesucian ilahi. Inilah gambaran, betapa hubungan manusia dengan Tuhan atau dengan sesuatu yang Agung menjadi bagian penting dalam refleksi kreatifnya.

Minggu, 25 Agustus 2019

MENOLAK KONON: SEBUAH PERTANGGUNGJAWABAN

Editor: Maman S Mahayana

Guna mengetahui serba sedikit proses penyusunan buku ASPI, berikut saya sertakan semacam Pertanggungjawaban Editor. Silakan dicermati.

“Penyair yang baik adalah penulis esai yang baik!” Ini bukan konon! Tetapi, begitulah keyakinan Sapardi Djoko Damono, salah seorang penyair terkemuka kita yang hingga kini masih terus berkarya. Maka, kita dapat melihat, esai-esai yang ditulis Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri atau Goenawan Mohamad—sekadar menyebut tiga nama—nyaris selalu hadir dengan penyajian yang mengalir lancar, renyah, dan sedap. Di sana, dalam esai-esai mereka, kalimat, ungkapan atau idiom, bahkan juga kata-kata tertentu kerap begitu trengginas, lincah, gesit, dan kadang kala juga tajam, keras, dan nyelekit, meski dikemas secara metaforis. Hampir selalu ada informasi baru dan ungkapan atau metafora yang segar dan inspiratif dalam esai-esai mereka.

Selasa, 07 Agustus 2018

PERJALANAN PUISI NARATIF

Maman S Mahayana

Ada banyak cerita tentang tradisi puisi kita. Konon, sumbernya dari Eropa, khususnya Belanda. Muhammad Yamin memperkenalkan soneta. Ia lalu dianggap yang mengawali tradisi puisi Indonesia (modern). Sutan Takdir Alisjahbana (STA, 1946) menyebutnya puisi baru untuk membedakannya dengan puisi lama. Garis pemisahnya terjadi abad ke-20. Bagi STA, sebelum abad itu, puisi lama sebagai pancaran masyarakat lama, zaman jahiliyah, pra-Indonesia. Selepas tahun 1900, bergeraklah puisi (baru) Indonesia. Gagasan itulah yang membentuk dikotomi puisi lama—baru, tradisional —modern. Buku yang disusun Sapardi Djoko Damono (2003), Puisi Indonesia sebelum Kemerdekaan, mewartakan lain. Ia menguak sejumlah puisi abad ke-19.
A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Rodhi Murtadho A. Syauqi Sumbawi Abdul Azis Sukarno Abdul Kadir Ibrahim Abi N. Bayan Achiar M Permana Adib Baroya Aditya Ardi N Afrilia Afrizal Malna Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhudiat Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mustofa Alief Mahmudi Alim Bakhtiar Allex Qomarulla Amarzan Loebis Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Syarifuddin Anash Andri Awan Anggrahini KD Anindita S Thayf Anisa Ulfah Anjrah Lelono Broto Annisa Steviani Anugrah Gio Pratama Anung Wendyartaka Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Ardy Suryantoko Arie Giyarto Arie MP Tamba Arif Bagus Prasetyo Arif Gumantia Arif Hidayat Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran AS Laksana Asarpin Asrul Sani Baca Puisi Bahrum Rangkuti Balada Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni R. Budiman Beni Setia Benny Benke Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budi Darma Bustan Basir Maras Candra Malik Candrakirana Caping Catatan Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chicilia Risca Christine Hakim Cinta Laura Kiehl D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Darju Prasetya Deddy Setiawan Denny JA Denny Mizhar Deo Gratias Dewi Musdalifah Dhimas Ginanjar Dian Sukarno Dian Tri Lestari Diana AV Sasa Dien Makmur Dinar Rahayu Diskusi Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Yan Masfa Donny Syofyan Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Edisi Khusus Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Prasetyo Eko Tunas Elsa Vilinsia Nasution Erwin Setia Ery Mefry Esai Evan Ys F Aziz Manna F. Budi Hardiman F. Rahardi Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Feby Indirani Felix K. Nesi Foto Andy Buchory Francisca Christy Rosana Franz Kafka Frischa Aswarini Fritz Senn Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gde Artawan Gendhotwukir Goenawan Mohamad Gola Gong Gusti Eka Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hamsad Rangkuti Hamzah Sahal Hardy Hermawan Hari Purwiati Hario Pamungkas Haris del Hakim Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hendri R.H Hendri Yetus Siswono Herie Purwanto Herry Lamongan Heru Kurniawan Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur I Nyoman Darma Putra I. B. Putera Manuaba IAI TABAH (Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah) Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Imam Muhtarom Imam Nawawi Imammuddin SA Iman Budhi Santosa Indira Permanasari Indonesia O’Galelano Indra Intisa Indra Tjahyadi Inung As Isbedy Stiawan ZS Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwan Simatupang Jajang R Kawentar Jalaluddin Rakhmat James Joyce Jean-Paul Sartre Jember Gemar Membaca JJ. Kusni Jl Raya Simo Sungelebak Karanggeneng Joko Pinurbo Jordaidan Rizsyah Joyo Juwoto Jual Buku Paket Hemat K. Usman Kadek Suartaya Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) Khairul Mufid Jr Khanif Khoirul Abidin Ki Ompong Sudarsono Kiki Astrea Kitab Para Malaikat Koh Young Hun Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Kritik Sastra Kumpulan Cerita Buntak Kurnia Effendi Kuswaidi Syafi’ie L.K. Ara Lan Fang Launching dan Bedah Buku Lawi Ibung Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Literasi Liza Wahyuninto Lukas Luwarso Lukman Santoso Az M. Abror Rosyidin M. Adnan Amal M. Faizi M. Lutfi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahardini Nur Afifah Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mansur Muhammad Marcellus Nur Basah Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoernomo Mario F. Lawi Maroeli Simbolon Marsel Robot Marulam Tumanggor Mas Garendi Mashuri Masuki M. Astro Matdon Matroni Muserang MG. Sungatno Moh. Husen Mohamad Sobary Mohammad Sadam Husaen Muhammad Idrus Djoge Muhammad Muhibbuddin Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhidin M. Dahlan Multazam Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Murnierida Pram Mutia Sukma N. Syamsuddin CH. Haesy Naskah Teater Neli Triana NH Dini Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nissa Rengganis Noor H. Dee Novel John Halmahera Nurel Javissyarqi Nuryana Asmaudi Omah Sastra Ahmad Tohari Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pagelaran Musim Tandur PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Profil MA Matholi'ul Anwar Prosa Proses Kreatif Puisi Pustaka LaBRAK PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat HM Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Resensi Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Riri Satria Rodli TL Ronggeng Dukuh Paruk Ronny Agustinus Rumah Budaya Pantura (RBP) S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saini KM Sainul Hermawan Sajak Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sasti Gotama Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Lamongan Sastra-Indonesia.com Sastri Sunarti Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSAstra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seputar Sastra Semesta Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siwi Dwi Saputro Soeparno S. Adhy Soetanto Soepiadhy Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sosiawan Leak Subagio Sastrowardoyo Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syaifuddin Gani Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Ilat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Titi Aoska Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Topik Mulyana Tri Lestari Sustiyana Triyanto Triwikromo TS Pinang Ulysses Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Negeri Jember Untung Wahyudi Veronika Ninik Viddy A.D. Daery W.S. Rendra Wage Daksinarga Wahyudi Akmaliah Muhammad Wawan Eko Yulianto Wawancara Widie Nurmahmudy Wildan Ibnu Walid Windi Erica Sari Wisran Hadi Y Alprianti Y. Thendra BP Yanusa Nugroho Yasunari Kawabata Yeni Mulyani Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yopi Setia Umbara Zainuddin Sugendal Zainuri Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zumro As-Sa'adah