suaramerdeka.com 24 Sep 2017
Tahun ini adalah 100 tahun usia
Balai Pustaka (22 September 1917-22 September 2017). Orang-orang biasa
mengenang Balai Pustaka adalah daftar novel berbahasa Indonesia pada masa
1920-an. Ingatan itu diperoleh dari pelajaran di sekolah dan buku sejarah sastra
di Indonesia. Sekian novel mengartikan peran Balai Pustaka. Sejak pendirian
pada 1917, Balai Pustaka tak cuma bertugas menerbitkan buku sastra berbahasa
Melajoe atau Indonesia. Balai Pustaka juga bermisi mengadakan buku-buku sastra
Jawa, meski menerapkan kontrol dan sensor.
Balai Pustaka pernah berperan
penting dalam semaian sastra modern berbahasa Jawa melalui terbitan Serat
Rijanta gubahan Raden Bagus Sulardi. Novel selesai ditulis pada 1918,
diterbitkan Balai Pustaka pada 1920, semasa dengan Azab dan Sengsara (1920)
karya Merari Siregar. Novel dicetak beraksara Jawa dan berbahasa Jawa halus.
Tebal 139 halaman. Serat Rijanta menandai usaha Balai Pustaka menjadi penentu
atau pusat penerbitan sastra Jawa, meski mendapat saingan dari
penerbit-penerbit partikelir bertaraf kecil. Ingatan pada Serat Rijanta tak
seheboh dengan novel-novel berbahasa Indonesia.
Di pelbagai jurusan sastra Jawa,
Serat Riyanta memang dipelajari, tetapi jarang memicu keinginan publik turut
membaca: memberi penghormatan terhadap jejak sastra Jawa pada zaman kapitalisme
cetak dan kebermaknaan penerbit bentukan pemerintah kolonial. Orang-orang sudah
kesulitan membaca novel dicetak beraksara Jawa. Usaha menerjemahkan ke bahasa
Indonesia pernah dilakukan Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia,
1998- 1999. Edisi terjemahan datang terlambat, datang dalam rupa dan rasa
berbeda.
Penerbitan dilakukan Departemen
Pendidikan Nasional, tak lagi Balai Pustaka. Kehadiran novel Jawa di Balai
Pustaka mendahului kemunculan puisi-puisi berbahasa Jawa di naungan Balai
Pustaka. Pesona prosa memang sedang berbiak berbarengan ikhtiar Padmasusastra
dalam gubahan sastra berbentuk prosa, tak melulu puisi. Warisan terpenting
adalah Rangsang Tuban (1912). Novel itu berkesan mengantarkan novel-novel berbahasa
Jawa terbitan Balai Pustaka pada masa 1920-an dan 1930-an. Pada zaman bergerak,
prosa (novel dan cerita pendek) cenderung gampang terbaca ketimbang puisi
menganut struktur tradisi bereferensi para pujangga keraton.
Balai Pustaka terus berperan dalam
perkembangan sastra Jawa melalui terbitan majalah berbahasa Jawa bernama
Kadjawen. Intojo menggubah puisi berbahasa Jawa dipengaruhi soneta berjudul
“Dayaning Sastra”, dimuat di Kadjawen edisi 1 April 1941. Para pujangga di Jawa
mulai turut dalam keterpengaruhan puisi berkiblat Eropa. Penggunaan bahasa Jawa
mengesankan gubahan mereka masih masuk di alur sastra Jawa. Intojo menulis:
Tembung kang ginantha lelarikan,/ Tinata binaris kadya bata,/Sinambung pinutung
manut ukuran,/ Dene bandjur kasinungan daja.
Melacak Peran
Suripan Sadi Hutomo (1985)
menilai kalangan sastra Jawa mendapat pengaruh besar dari kemunculan Pujangga
Baru masa 1930-an. Anutan estetika tak lagi mengacu ke tradisi leluhur atau
pujangga keraton, tetapi mencari ke sastra modern berasal dari Eropa.
Pengabaran sastra Jawa di Balai Pustaka memang tak sekencang sastra Indonesia.
Kita masih mungkin melacak peran
Balai Pustaka dalam penentuan selera sastra Jawa dan kuasa mengenalkan sastra
klasik dan modern pada masa kolonial. Balai Pustaka sangat berperan, tetapi
memberi seruan atas keterpilihan penggunaan aksara Latin ketimbang aksara Jawa
dalam pelbagai terbitan buku. Pada permulaan, Balai Pustaka memilih
naskah-naskah mengandung didaktik atau ajaran moral. Kemeriahan penerbitan sastra
Jawa dalam bentuk buku cetak memunculkan kebangkitan bercorak modern. Sastra
Jawa adalah sastra tulis dan tercetak jadi buku.
Balai Pustaka tampil mengambil
peran dengan kerancuan misi ideologi-kultural dan estetika. JJ Ras dalam buku
Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir (1985) mengakui Serat Rijanta mengawali
keampuhan sastra Jawa menuruti situasi zaman dan kemungkinan estetika baru,
meninggalkan patokan estetika lama di sastra tradisional. Pada 1924, publik
pembaca mendapatkan novel Kirti Ndjundjung Dradjat gubahan Jasawidagda.
Sastra berbahasa Jawa bercorak
modern makin digandrungi pembaca, meski harus berhadapan dengan aksara Latin,
bukan lagi tergantung pada aksara Jawa. Episode 1920-an bersambung ke
perkembangan sastra Jawa pada masa 1950-an dan 1960-an. Balai Pustaka
kehilangan dominasi akibat kemunculan penerbit-penerbit partikelir di pelbagai
kota: memberi menu bacaan sastra Jawa dalam bentuk kumpulan puisi, kumpulan
cerita pendek, dan novel. Pada abad XXI, sastra Jawa di Balai Pustaka adalah nostalgia
menguak sesalan kesulitan mendapatkan koleksi lengkap. Sekian buku menghilang
tanpa jejak dan studi sastra modern berbahasa Jawa tertinggal jauh dari studi
sastra Indonesia. Kita mending masih mau mengingat, meski merasa kehilangan dan
ketinggalan.
*) Bandung Mawardi, kuncen Bilik
Literasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar